Friday, January 2, 2015

KAYANGAN API

Kayangan Api Bojonegoro 

KAYANGAN API 

Kayangan Api Adalah berupa sumber api abadi yang tak kunjung padam yang terletak pada kawasan hutan lindung di Desa Sendangharjo,Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
 Kompleks Kayangan Api merupakan fenomena geologi alam berupa keluarnya gas alam dari dalam tanah yang tersulut api sehingga menciptakan api yang tidak pernah padam walaupun turun hujan sekalipun.

GAPURA TAMAN WISATA KAYANGAN API
Lokasi

Untuk menuju Lokasi wisata Kayangan Api dapat di tempuh dari Kota Bojonegoro arah selatan (Kira-kira 15Km), sesampainya di Pasar Kecamatan Dander sudah banyak petunjuk menuju lokasi. Dijadikan sebagai obyek wisata alam dan dijadikan tempat untuk upacara penting yakni Hari Jadi Kabupaten Bojonegoro, ruwatan masal dan Wisuda Waranggono. Tempat wisata ini telah dibenahi dengan berbagai fasilitas seperti pendopo, tempat jajanan, jalan penghubung ke lokasi dan fasilitas lainnya. Lokasi kayangan api sangat baik untuk kegiatan sebagai lokasi wisata alam bebas (outbound). Dan pada hari-hari tertentu terutama pada hari Jum'at Pahing banyak orang berdatangan di lokasi tersebut untuk maksud tertentu seperti agar usahanya lancar, dapat jodoh, mendapat kedudukan dan bahkan ada yang ingin mendapat pusaka. Acara tradisional masyarakat yang dilaksanakan adalah Nyadranan (bersih desa) sebagai perwujudan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa. Pengembangan wisata alam Kayangan Api diarahkan pada peningkatan prasarana dan sarana transportasi, telekomunikasi dan akomodasi yang memadai.
Siang hari semburan api KAyayangan Api  kurang begitu terlihat.. 

Legenda

Menurut cerita, Kayangan Api adalah tempat bersemayamnya Mbah Kriyo Kusumo atau Empu Supa atau lebih dikenal dengan sebutan Mbah Pandhe berasal dari Kerajaan Majapahit. Di sebelah barat sumber api terdapat kubangan lumpur yang berbau belerang dan menurut kepercayaan saat itu Mbah Kriyo Kusumo masih beraktivitas sebagai pembuat alat-alat pertanian dan pusaka seperti keris, tombak, cundrik dan lain-lain. Sumber Api, oleh masyarakat sekitarnya masih ada yang menganggap keramat dan menurut cerita, api tersebut hanya boleh diambil jika ada upacara penting seperti yang telah dilakukan pada masa lalu, seperti upacara Jumenengan Ngarsodalem Hamengkubuwana X dan untuk mengambil api melalui suatu prasyarat yakni selamatan/wilujengan dan tayuban dengan menggunakan fending eling-eling, wani-wani dan gunungsari yang merupakan gending kesukaan Mbah Kriyo Kusumo. Oleh sebab itu ketika gending tersebut dialunkan dan ditarikan oleh waranggono tidak boleh ditemani oleh siapapun.
Gapura lokasi Kayamngan Api

Kayangan api memiliki keterkaitan sejarah dengan empu Kriyo kusumo yang memiliki tiga keris dan satu tombak . Menurut legenda setempat , seperti di katakan juru kunci , sebelum di pakai sebagai tempat wisata ada kejadian aneh . di mana sang juru kunci sering di datanggi seseoarang yang menyerupai kakek-kakek . kakek tersebut memberi wejangan , begini : “ Carilah wujud batu semedi yang ku pakai untuk bersemedi . sekarang batu itu tergelincir di bawah pohon , carilah , jika ketemu rawat dan perbaiki . Bukan upah yang saya berikan , tetapi suatu ganjaran atau kukuh sebagai bekal hari tuamu , “ tutur kakek seperti di tuturkan juru kunci . Bagi dia kakek tersebut merupakan penjelmaan dari eyang empu kriyo kusumo yang menampakan diri kepadanya . “ Mungkin inilah saatnya aku di suruh eyang untuk membuka jalan hidup saya . Selama kehidupan saya sangat tidak menentu . Padahal anak saya masih kecil-kecil , sementara ekonomi saya juga pas-pasan . Saya berjuang demi nasib anak . Pesan eyang tadi . Saya laksanakan , “ Kenang sang juru kunci . Pesan itu ternyata benar-benar merubah nasibnya . Sedikit demi sedikit , jalan hidupnya berubah . Kini sang juru kunci bisa hidup layak . Lebih mengejutkan lagi , ia mendapat pangilan dari orang nomer satu di bojonegoro . “ Saya di pangil pak Bupati , “ tuturnya kepada metro . Sejak pemanggilan juru kunci , PEMKAB bojonegoro langsung turun gunung untuk melakukan renovasi tempat wisata kayangan api . Sekarang bisa di lihat bangunan untuk persinggahan wisata sangat teduh dan menyenangkan . Wisatawan yang datang bukan hanya dalam negeri , dari luar negeripun sudah banyak yang menginjakan kaki di kayangan api . Mereka bermaksud melihat pemandangan sekaligus melakukan penyembuhan denga mandi air ( kungkum / di kayangan api .) Sejarah Kayangan api tak lepas dari sejarah . Ada banyak cerita yang bisa di ungkapakan kepada wartawan cermat . Salah satunya yaitu cerita tentang tokoh dari kerajaan tuban . Menurut juru kunci, eyang kriyo kusumo bersama reso kusumo yang berasal dari kerajaan tuban suka melakukan pengembaraan . Sampai akirnya , tiba di kayangan api . keduanya masuk ke kayangan api dari arah barat , dan waktu keluar juga menuju ke arah barat. Kedua tokoh kerajaan tersebut mulai berfikir , kayangan api menyimpan kekuatan gaib yang dahsyat . Sehingga sangat cocok untuk tempat bertapa . Tanpa berfikir panjang lagi , eyang kriyo kusumo melakukan semedi . Tidak tangung- tangung , Bukan hanya bersemedi sehari Atau beberapa hari saja , tetapi ia melakukan semedi selama lima tahun. “ Hasil semedi tersebut , eyang kriyo kusumo mendapatkan liham dari allah untuk menjalankan perantauan ke irian , Kalimantan lalu kembali ke kayangan api , eyang harus membawa batu sekuatnya dan tidak memakai kendaraan apapun ,” cerita juru kunci kepada cermat. Menurut cerita batu iti di bakar di atas api , batu tersebut akirnya meleleh , lalu di buat pusaka berupa keris dan tombak , keris tersebut berbentuk luk telu , jangkung , blong tenggah sementara tombaknya bernama semar ndodok. Selang beberapa tahun kemudian , pusaka buatan eyang kriyo kusumo terkenal sampai kemana-mana . kabar itu di dengar oleh raja majapahit I , brawijaya V dan patih gajah mada . Akhirnya pusaka itu di boyong ke kerajaan tersebut dan eyang kriyo kusumo di mintai bantuan untuk melakukan perluasan wilayah sampai ke irian jaya , maluku ,sunda kecil , dan termasuk daerah-daerah lainya. Eyang kriyo kusumo , ketika berusia 29 tahun di pungut menantu oleh raja majapahit ia di jodohkan dengan mbah nyaini dan minta hiburan ledek , sejak itulah mbah reso kusumo di rubah namanya menjadi eyang kriyo kusumo . Eyang kriyo minta tiga gending di antaranya Eling-eling ,wani- wani , gunung sari sebagai hiburan pertemuan ,Atas keperkasaan eyang kriyo kusumo , raja memberikan gelar Supogati. Setelah tiga tahun pernikahan , eyang kriyo di karuniai anak di beri nama Retno sari . Sang ayah membuatkan taman untuk retno sari , namun sayang sampai sekarang tidak di temukan . tanda batu nisan di tempat pemakaman retno sari , Menurut cerita pemakaman retno sari musnah begitu saja , tidak ada tanda-tanda di makamkan dimana. Cerita hanya turun temurun dan ada di catatan sejarah. Air Blekuthuk Sumber mata air di kayangan api terkesan panas , tapi jika di sentuh terasa dingin. Baunya yang khas bau belerang memiliki khasiat yang baik untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. “Banyak orang yang telah berendam ,serta minum air kayangan api , Hebatnya sebagian orang yang bisa sembuh setelah berendam atau minum air, kata juru kunci air blekuthuk. Ada hal yang aneh lagi , di ceritakan pernah ada ular bersisik tebal dan sangat panjang ular tersebut masuk ke batang pohon , hingga musnah begitu saja , batang pohon tersebut memiliki ciri keanehan kulit pohon tersebut menyerupai kulit ular dan bersisik tebal. Api kayangan semakin moncer kini berbagai wisatawan dalam negeri dan asing berdatangan untuk melihat pesona kayangan api . Sekarang kayangan api bukan milik bojonegoro saja tetapi telah menjadi milik bangsa Indonesia yang harus di lestarika dan di jaga. selain mengeluarkan api abadi yang terbesar se-asia tenggara, tempat wisata ini juga mengeluarkan semburan api bercampur air yang sering disebut masyarakat sebagai ” air blukuthuk”. tempat wisata ini berada di desa sendang harjo kecamatan ngasem yang berada ditengah – tengah hutan jati dan terletak 15 kilometer selatan kabupaten Bojonegoro Jawa timur. Menurut sejarah dari masyarakat setempat,kayangan api merupakan petilasan seorang mpu pembuat keris pada jaman kerajaan Mojopahit. Jalan menuju kayangan kata lain dari kayangan api merupakan tempat pengasingan seorang mpu yang bernama KI Kriya Kusuma. sebelum mengasingkan diri mpu tersebut bernama mpu supagati. Dia adalah seorang mpu pembuat keris yang terkenal dijaman Mojopahit. Ditempat pengasingannya inilah ki kriya kusuma melakukan tapa sambil menekuni profesinya sebagai ahli pembuat keris. Didalam pengasingannya, mpu supagati berhasil membuat sebuah keris yang diberi nama “Dapur Jakung luk telu Blong pok Gonjo”

AIR BLUKUTUK 

Air Blukutuk 
 Selain terdapat sumber api abadi, disekitar lokasi tersebut juga terdapat semburan air bercampur lumpur yang mengandung belerang. Namun semburan tersebut tidak membahayakan masyarakat maupun daerah yang berada disekitar lokasi tersebut. Air blukutuk ini dulunya untuk mencuci atau merendam keris yang dibuat Mpu Supagati” Kata juru kunci khayangan api Pak Juli. Bahkan oleh masyarakat sekitar maupun pengunjung lokasi wisata tersebut, air blukutuk tersebut dianggap membawa berkah. Karena selain dapat mengobati penyakit juga dianggap dapat membawa keberuntungan bagi mereka yang datang untuk meminta keberuntungan. Selain memintakesembuhan dari air blukuthuk, masyakarat yang datang kesini juga melakukan tirakat dengan bertapa didekat lokasi api abadi, “ujar pak juli”. Hingga saat ini lokasi wisata yang berada di tengah hutan jati ini masih banyak meninggalkan misteri. karena selain mengeluarkan semburan api bercampur lumpur yang tidak membahayakan, tempat tersebut diyakini juga oleh masyarakat setempat dijaga oleh dua orang anak gadis ki kriya kusuma yang bernama Sri wulan dan Siti Sundari. Sumber mata air di kayangan api terkesan panas , tapi jika di sentuh terasa dingin. Baunya yang khas bau belerang memiliki khasiat yang baik untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. “Banyak orang yang telah berendam ,serta minum air kayangan api , Hebatnya sebagian orang yang bisa sembuh setelah berendam atau minum air, kata juru kunci air blekuthuk.ada hal yang aneh lagi , di ceritakan pernah ada ular bersisik tebal dan sangat panjang ular tersebut masuk ke batang pohon , hingga musnah begitu saja , batang pohon tersebut memiliki ciri keanehan kulit pohon tersebut menyerupai kulit ular dan bersisik tebal. Api kayangan semakin moncer kini berbagai wisatawan dalam negeri dan asing berdatangan untuk melihat pesona kayangan api . Sekarang kayangan api bukan milik bojonegoro saja tetapi telah menjadi milik bangsa Indonesia yang harus di lestarikan dan di jaga.


POHON CINTA

Selain itu tumbuh juga dua pohon yang bergabung menjadi satu yang dikenal sebagai pohon cinta..
banyak pasangan muda mudi menuliskan nama mereka di batu dan meletakkan di bawah pohon cinta ini dengan harapan cinta mereka menyatu seperti pohon dan selalu abadi seperti api  kayangan api dan tetap adem ditengah pergulatan kehidupan seperti air blukutuk.. mau percaya silakan..tidak juga.. silakan namanya juga . romantis romantisan.. heheheh


Sumber:



No comments:

Post a Comment