Sunday, February 16, 2014

PRIMBON

Pawukon

Awal Mula Terjadinya Pawukon
(zodiak Jawa)

Dikisahkan ketika batara Wisnu sedang bercengkrama di negara Mendang, ia terpikat oleh seorang putri cantik yang kemudian diambil sebagai istri. Batara Wisnu tidak tahu bahwa
Putri Mendang yang ia nikahi adalah putri simpanan batara Guru ayahnya, yang rencananya akan dibawa naik ke Suralaya. Tentu saja hal tersebut membuat batara Guru murka, dan memerintahkan sanghyang Narada menjatuhkan murkanya dan mengambil alih keratonnya. Batara Wisnu merasa bersalah, ia meninggalkan negaranya dan isterinya yang sedang mengandung dan pergi bertapa di hutan di bawah pohon beringin berjajar tujuh.


Prabu Watu-Gunung Raja Gilingwesi


(karya Herajaka. HS 1993)



Tersebutlah di negara Gilingwesi, yang menjadi raja bernama prabu Watu-Gunung. Istrinya dua, yang pertama bernama dewi Sinta yang ke dua dewi Landep. Dari rahim Dewi Sinta lahirlah 27 anak laki-laki yaitu : Wukir, Kurantil, Tolu, Gumbreg, Warigalit, Wariagung, Julungwangi, Sungsang, Galungan, Kuningan, Langkir, Mandasiya, Julungpujud, Pahang, Kuru Welut, Marakeh, Tambir, Medangkungan, Maktal, Wuye, Manahil, Prabangkat, Bala, Wugu, Wayang, Kulawu, Dukut. Sedangkan dari rahim dewi Landep tidak satupun anak dilahirkan.
Pada saat itu Negara Gilingwesi sedang paceklik, mengalami masa sulit. Harga kebutuhan pokok melambung tinggi sehingga tak terjangkau. Di mana-mana terjadi bencana dan kerusakan lingkungan. banyak rakyat kecil yang sengsara. Sering terjadi gerhana Matahari dan gerhana Bulan, hujan salah musim, gempa bumi sehari tujuh kali. Itu semua menjadi tanda bahwa tidak lama lagi negara Gilingwesi akan mengalami kerusakan hebat.
Prabu Watu-Ggunung sedih melihat kesengsaraan rakyatnya. Adakah kesalahan besar pada diriku? Menurut kepercayaan yang ada jika sang raja melakukan dosa atau kesalahan yang besar negara dan raktyanya akan ikut menanggung kutukan. Namun pertanyaan Prabu Watu-Gunung tidak mudah untuk dijawab.
Pada suatu sore, Prabu Watu-Gunung tiduran di balai panjang, kepalanya berbantal paha dewi Sinta istrinya. Ketika tangan Sang Dewi membelai rambut Sang Prabu, terkejutlah ia melihat luka di kepala Prabu Watu-Gunung. Dewi Sinta bertanya kepada suaminya, dengan suara yang bergetar dan dalam.
“Kanda Prabu, mengapa ada luka di kepala? Berceritalah Kakanda, aku sangat ingin mengetahuinya.”
Prabu Watu-Gunung menceritakan masa kecilnya, ketika ia ribut meminta enthong (alat untuk mengaduk nasi yang dibuat dari kayu) yang sedang dipakai ibunya mendinginkan nasi, sehingga diantara ibu dan anak itu saling tarik menarik enthong. Si ibu marah, dengan spontan memukulkan enthong tersebut pada kepala Watu-Gunung hingga berdarah. Watu-Gunung menangis. Tangisnya tidak semata-mata rasa perih karena kulit kepalanya sobek sehingga darah keluar bercampur keringat. Namun hatinyalah yang pedih, karena gara-gara enthong, ibunya yang selama ini ia jadikan sumber kasih sayang begitu tega mencelakai dirinya. Bocah kecil berusia sekitar 6 tahun tersebut lari meninggalkan rumah. Walaupun tidak mempunyai tujuan, ia tidak berniat pulang, karena di rumah sudah tidak ada lagi cinta yang tulus dari seorang ibu.
“Sampai sekarang aku tidak pernah berusaha mencari kabar tentang ibuku, apakah masih hidup ataukah sudah meninggal. Jika masih hidup pun sudah tidak ada lagi cinta yang mengalir di sana.”
Mendengar cerita sang Prabu, naluri sebagai seorang ibu terpukul karenanya. Dewi Sinta teringat anaknya yang pergi dan tidak pernah pulang, karena hal yang sama seperti yang dialami Watu-Gunung.. Perasaannya semakin kuat mengatakan bahwa anak di pukul dengan enthong puluhan tahun lalu itu adalah prabu Watu-Gunung, yang sekarang menjadi suaminya.
Dewi Sinta tak kuasa menahan kesadarannya, ia terjatuh tak sadarkan diri. Prabu Watu-Gunung terkejut penuh keheranan, Apakah penuturan masa kecilnya telah menyinggung perasaannya? Atau ada penyakit tertentu yang menyebabkan istrinya dengan tiba-tiba jatuh tak sadarkan diri?
Tak tergambarkan seberapa besar dan dalam kesedihan dan rasa sesal dewi Sinta, karena Prabu Watu-Gunung yang menjadi suaminya dan telah memberikan benih untuk 27 anaknya, adalah anaknya sendiri.
Oh Dewa hukuman apakah yang patut ditimpakan kepada kami berdua atas dosa besar ini? apakah dosa ini pula yang menyebabkan negara Gilingwesi mendapat kutukan?
Semenjak kejadian itu, dewi Sinta, tidak banyak bicara, wajahnya murung. Pelayanan prabu Watu-Gunung dan dewi Landep tidak mampu mengurangi kesedihnnya.
Ia tidak akan membuka aib ini kepada siapapun termasuk kepada suaminya yang juga anaknya. Diam-diam ia berusaha mencari jalan agar lepas dari Sang Prabu. Entah apa yang menyebabkan tiba-tiba dewi Sinta mempunyai rekadaya untuk menyingkirkan sang Prabu dari muka bumi.
Pada suatu waktu yang dianggap baik, dewi Sinta mengungkapkan maksudnya kepada prabu Watu-Gunung demikian.
“Jika keluhuran Sang Prabu akan menjadi sempurna, hendaknya sang prabu memperistri bidadari Suralaya.”
Pikir dewi Sinta jika Prabu Watu-Gunung melamar bidadari Suralaya, pasti akan terjadi perang, dan Sang Prabu akan gugur berhadapan dengan para dewa. Itulah jalan yang dapat melepaskan dari suaminya yang juga anaknya dan sekaligus mengubur aib dalam hidupnya..
Prabu Watu-Gunung menyambut saran isterinya dengan penuh semangat. Maka demi maksud tersebut, sang prabu segera memerintahkan kepada para punggawa dan keduapuluh tujuh anaknya untuk menghimpun pasukannya masing-masing. Segera setelah ribuan pasukan selesai disiapkan, berangkatlah prabu Watu-Gunung ke Suralaya memenuhi saran isterinya, untuk melamar bidadari.

Seperti yang telah dijanjikan Batara Guru kepada Prabu Watu-Gunung bahwa dua isterinya dan 27 anaknya akan diangkat ke surga. Proses pengangkatannya dilaksanakan pada setiap minggu. Diurutkan mulai dari isterinya yaitu Dewi Sinta dan Dewi Landep, kemudian anak-anaknya. mulai dari anak yang sulung dan disusul adik-adiknya.
Perlu diketahui bahwa setiap tahun Dewi Sinta melahirkan anak laki-laki kembar hingga sampai 13 kali. Sedangkan anak laki-laki yang lahir ke 14 tidak kembar. Nama-nama isteri dan anak Prabu Watugunug itulah yang kemudian dijadian nama wuku yang berjumlah 30. Karena proses pengangkatan ke surga setiap minggu, maka setiap satu wuku berumur 7 hari, dimulai dari hari minggu hingga hari Sabtu, sehingga satu putaran keseluruhan wuku atau pawukon = 30 x 7 hari = 210 hari.


Pengetahuan mengenai wuku-wuku disebut Pawukon, yang di dalamnya membeberkan pengaruh baik dan pengaruh buruk bagi seseorang yang dilahirkan pada wuku yang bersangkutan. Watak tabiat dari masing-masing wuku tersebut dipengaruhi oleh dewa yang menaunginya, serta atribut yang dibawanya. Atribut tersebut seperti misalnya: burung, kayu pohon dan yang lain. Selanjutnya akan dibeberkan secara bersambung gambar serta keterangan dari masing-masing wuku.

MENCARI WUKU

Cara mencari wuku termasuk agak rumit karena membutuhkan tabel tabel yang berbeda setiap tahunnya. Di dalam buku primbon, setiap beberapa tahun,  primbon  harus direvisi kembali untuk memasukkan tahun tahun yang baru
tabel tabel dapat di temukan di 

atau dengan software online dapat dicari secara otomatis dengan memasukkan tanggal, bulan dan tahun kelahiran.

Website yang dapat dikunjungi adalah:





Nomor 1

WUKU SINTA




karya : Herjaka HS, tahun 1997
Wuku Sinta mengambil nama dari isteri prabu Watu-Gunung yang konon mempunyai 27 anak laki-laki. 13 diantaranya kembar.
Ciri-ciri wuku Sinta adalah sebagai berikut :
  • Dewa yang menaungi Wuku Sinta adalah Batara Yamadipati. Oleh karena tugasnya, dewa yang satu ini lebih dikenal dengan sebutan.Dewa Pencabut Nyawa.
  • Kayunya adalah kayu gendayakan, yang mempunyai daya penyembuh, sehingga menjadi tempat perlindungan dan sambat-sebut bagi orang-orang sakit dan sengsara.
  • Burungnya Gagak menandakan tajam firasatnya, dapat mengetahui wangsit, atau kejadian penting yang masih tersembunyi tetapi bakal terjadi.
  • Bersanding dengan gedhong, atau rumah mewah artinya senang memperlihatkan kekayaannya.
  • Membawa umbul-umbul, sebagai tanda bahwa yang bersangkutan akan mendapatkan kemuliaan.
  • Lambangnya Wulan Karahinan, atau Bulan tersaput awan, artinya mempunyai tekad yang kuat, kenceng budine, tidak bisa sabar dan mudah cemburu.
  • Datangnya sambekala, atau kemalangan terjadi pada usia separo-baya, kira-kira umur 40 tahun sampai dengan 50 tahun.
  • Hari naas Senin Pon
Cara menangkal agar terhindar dari mara bahaya yaitu dengan membuat ‘slametan’ berupa:
Beras 3,5 kg (sapitrah) dimasak dengan lauk rendang kebo. Setelah nasi dan lauknya masak, yang bersangkutan bersama keluarga mendaraskan donga tolak bilahi, doa mohon dijauhkan dari mara-bahaya. Selesai doa, nasi dan lauknya dibagi-bagikan kepada keluarga dan sanak saudara. Selama 7 hari dihitung dari waktu slametan, yang bersangkutan tidak diperkenankan pergi dari rumah ke arah timur laut.

Pawukon ke-2
Wuku Landep



Wuku Landep mengambil nama dari isteri prabu Watugunung yang tidak memberikan keturunan.

Dewi Landep (kiri) menghadap Batara Mahadewa

yang sedang mencelupkan kakinya di bokor air.

Ada gambar rumah gedong dan burung atat kembang

yang hinggap di pohon gendayakan

(karya herjaka HS, Agustus 1997)


Ciri-ciri wuku Landep adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Landep adalah Batara Mahadewa. Ia senang di tempat yang sepi dan tenang, untuk mengolah batin.
·         Kelebihannya adalah tajam daya ingatannya, mampu menangani segala jenis pekerjaan, serta menjadi tempat bertanya atau belajar.
·         Kayunya adalah kayu Gendayakan, yang mempunyai daya penyembuh, sehingga menjadi tempat perlindungan bagi orang-orang sakit dan sengsara hidupnya.
·         Burungnya adalah burung Atatkembang yang menjadi kelangenan (kesukaan) wong agung (orang besar). Artinya, orang yang mempunyai wuku Landep umumnya rupawan, hatinya terbuka, dan disenangi orang banyak, termasuk pejabat atau atasan.
·         Lambang wuku Landep adalah ‘sinar matahari’, menerangi hati yang gelap.
·         Kaki Mahadewa yang dicelupkan ke dalam bokor air melambangkan bahwa wataknya adem, tidak mudah emosi.
Namun sayang, ada pamrih di balik perbuatan baik tersebut. 
Rumah gedhong yang terletak di depan, memberi tanda bahwa orang yang berwuku-Landep termasuk orang yang suka pamer.
Datangnya bahaya : tertimpa kayu atau bangunan roboh 
Hari naas : Rebo Pahing, agar waspada, dan jika berpergian perlu ekstra hati-hati. 
Hari baik : Minggu Wage, untuk dapat dipergunakan pada setiap keperluan penting.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka dan kemalangan, perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya adalah daging menjangan dimasak kolak, digecok (dicacah/dipotong) dan dibakar.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi dari rumah ke arah barat, karena tempat sengkala (bahaya) terletak di barat.


Pawukon ke-3
Wuku Wukir

Wuku Wukir mengambil nama dari anak prabu Watugunung yang nomor satu.


Wukir (kiri) menghadap Batara Mahayekti
Bokor air dan rumah gedong di depan artinya senang pamer
gambar umbul-umbul dibelakang artinya rejekinya melimpah di hari tua
dan burung manyar terbang di atas pohon nagasari
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Wukir adalah sebagai berikut :
  • Dewa yang menaungi wuku Wukir adalah Batara Mahayekti
  • Kelebihannya: pemurah dan mempunyai sifat kepemimpinan.
  • Kekurangannya: di mana pun inginnya perintah, tidak dapat diajak setia
  • Kayunya adalah kayu Nagasari, wataknya suka prihatin
  • Burungnya adalah burung Manyar tidak senang diatasi atau di ungguli
  • Lambang wuku Wukir adalah becik dari kejauhan tetapi jika didekati mengecoh
  • Air di depan artinya pradah dan suka pamer menampakan kekayaannya
  • Rejekinya datang dihari tua.
Datangnya bahaya : dianiaya
Hari naas : tidak jelas
Hari baik : RabuWage, dan Jumat Legi
Untuk mencegah agar terhindar dari penganiayaan, perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya adalah daging ayam putih mulus dan sayuran lima macam.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi dari rumah ke arah tenggara, karena tempat sengkala (bahaya) terletak di tenggara menghadap Barat-laut.

Pawukon ke-4
Wuku Kuranthil



Wuku Kuranthil mengambil nama dari anak nomor dua prabu Watugunung dengan Dewi Sita.

Kuranthil (kiri) menghadap Batara Langsur yang membawa umbul-umbul. Bokor air ada di sebelah kirinya. Rumah gedong di depan dalam keadaan ngglimpang. Burung Slindhitan hinggap di atas pohon ingas yang menaunginya.

(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Kuranthil adalah sebagai berikut :
  • Dewa yang menaungi wuku Wukir adalah Batara Langsur.
  • Kelebihannya: teguh pendiriannya, rajin bekerja, mudah disenangi orang termasuk juga atasannya.
  • Kekurangannya: pemarah, pemboros (sehingga mudah celaka karena sifat borosnya), jika menjadi pemimpin tidak dapat melindungi bawahannya dan tidak dapat memberi pengarahan yang baik.
  • Kayunya adalah kayu ingas, wataknya walaupun gampang panas tetapi sabar.
  • Burungnya adalah burung Slindhitan, wataknya ubed, ringan tangan, tidak mau menganggur
  • Lambang wuku Wukir adalah anggara kasih nuju wogan, tidak langgeng budinya atau kurang stabil dalam menyikapi hidup dan kehidupannya.
  • Gedhongnya di depan artinya pradah dan tidak bisa menyimpan harta-bendanya.
  • Air yang ditempatkan di sebelah kiri, artinya budinya selingkuh, ada hal-hal yang disembunyikan.
  • Memanggul umbul-umbul artinya mempunyai kamulyan.
Datangnya bahaya : karena jatuh
Hari naas : tidak jelas
Hari baik : Sabtu Wage
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka jatuh perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya adalah daging ayam putih blorok kemanggang, dimasak pecel.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh memanjat pohan dan bangunan


Pawukon ke-5
Wuku Tolu
Wuku Tolu mengambil nama dari anak nomor tiga prabu Watugunung dengan Dewi Sinta.

Tolu (kiri) menghadap Batara Bayu..
Rumah gedong ada di depan dan umbul-umbul ada di belakang.
Burung Branjangan hinggap di atas pohon Walikukun yang menaunginya.
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Tolu adalah sebagai berikut :
  • Dewa yang menaungi wuku Tolu adalah Batara Bayu
  • Kelebihannya: bagus rupawan, kukuh pendiriannya, dan sabar. Ulet dalam bekerja sehingga dapat membahagiakan hidupnya, serius dalam pembicaraan, luhur budi, teliti, hatinya baik, senang pada tempat yang sepi.
  • Kekurangannya: kalau marah berkepanjangan, sedikit sombong, dan kadang-kadang mau berbohong.
  • Kayunya adalah kayu Walikukun.
  • Burungnya adalah burung Branjangan, wataknya mendatangkan angin besar.
  • Lambang wuku Tolu adalah lengkawa kuwung, besar piyangkuhe (angkuh), hatinya tidak dapat dijajagi.
  • Gedhongnya di depan, artinya senang memperlihatkan keduniawian.
  • Umbul-umbul berada di belakang, artinya bahwa kesuksesan dan kesejahteraan berada di usia tua.
  • Datangnya bahaya : digigit binatang buas, kena taring atau terkena benda tajam.
Hari naas : tidak jelas.
Hari baik : tidak menentu.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya daging ayam dimasak lembaran, disertai dengan doa keselamatan. Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh berpergian ke arah Barat Laut karena letak Kala berada di Barat Laut menghadap ke Tenggara.
Pawukon ke-6

Wuku Gumbreg

Wuku Gumbreg mengambil nama dari anak nomor empat Prabu Watugunung dan Dewi Sinta.

Gumbreg (kiri) menghadap Batara Candra yang kaki kanannya dicelupkan ke dalam bokor air,
artinya dingin, sejuk, dapat menjadi perlindungan.
Rumah gedong ada di sebelah kiri, artinya tidak semata-mata mementingkan barang-barang duniawi.
Burung ayam alas ada di bawah pohon beringin yang menaunginya.
(karya herjaka HS)


Ciri-ciri wuku Gumbreg adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Gumbreg adalah Batara Candra.
·         Kelebihannya: luhur budinya, kukuh dan keras pendiriannya, mempunyai insting untuk melindungi orang lain sehingga dapat menjadi pelindung. Senang pada tempat yang sepi. Rajin belajar dalam menuntut ilmu dan pantang menyerah. Disenangi atasan karena pengabdiannya yang besar dan rasa cinta terhadap pekerjaannya. Apa pun yang dilakukan selalu dijalani dengan ikhlas.
·         Kekurangannya: sedikit sombong
·         Kayunya adalah kayu Beringin.
·         Burungnya adalah ayam alas, disenangi wong agung
·         Lambang wuku Gumbreg adalah guntur ketug janma tinarungku
·         Gedhongnya di sebelah kiri, artinya ikhlas untuk merelakan hal-hal keduniawian.
·         Datangnya bahaya : terlibat pertengkaran dan tenggelam
Hari naas : tidak jelas.
Hari baik : Rabu Kliwon
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya daging ayam dimasak pindang, nasi kepel 9 macam aneka warna disertai dengan doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh berpergian ke arah Selatan karena letak Kala berada di Selatan menghadap ke Tenggara.


Pawukon ke-7

Wuku Warigalit

Wuku Warigalit mengambil nama dari anak nomor lima Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. Namun jika yang dihitung masa kandungan Dewi Sinta, Warigalit lahir dari masa kandungan yang ketiga. Karena dari 27 anak laki-laki Dewi Sinta, 13 kali lahir kembar, sedangkan pada masa kandungan yang ke-14 tidak kembar. Pada masa kandungan pertama, Dewi Sinta melahirkan anak kembar, yaitu Raden Wukir dan Raden Kurantil. Pada masa kandungan yang kedua, lahirlah Raden Tolu dan Raden Gumbreg. Sedangkan pada masa kandungan yang ketiga ini lahir Raden Warigalit dan Warigagung.

Warigalit (kiri) menghadap Batara Asmara, dengan mengedepankan candi. 
Burung kepodang terbang di atas pohon sulastri 
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Warigalit adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Warigalit adalah Batara Asmara
·         Kelebihannya: umumnya yang bernaung di wuku Warigalit yang laki-laki rupawan dan yang perempuan cantik. Mereka mempunyai daya tarik khusus, selalu membuat sengsem atu senang bagi orang yang melihatnya, mudah bergaul dan disenangi teman-temannya dan atasannya.
·         Kekurangannya: kurang setia, besar kemungkinannya untuk kawin lebih dari satu kali.
·         Kayunya adalah pohon Sulastri yang tidak mempunyai bunga.
·         Burungnya adalah burung Kepodang yang mempunyai watak cemburuan.
·         Lambang wuku Warigalit adalah tidak sabar terhadap sandang dan pangan.
·         Wuku ini digambarkan sedang menghadap candi, artinya suka prihatin.
·         Datangnya bahaya kasempyok sambekala, jatuh dalam marabahaya atau terlibat pertengkaran.
Hari naas : Kamis Pon dan Senin Kliwon.
Hari baik : Jumat Wage.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras sapitrah (3,5 kg) atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Lauknya rancapan dan daging digecok (dicacah) disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh memanjat, karena letak Kala berada di atas menghadap ke bawah.

Pawukon ke-8

Wuku Wariagung

Wuku Wariagung mengambil nama dari anak nomor enam Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. Namun jika yang dihitung masa kandungan Dewi Sinta, Wariagung lahir dari masa kandungan yang ketiga, saudara kembarnya Raden Warigalit.

Wariagung (kiri) menghadap Batara Maharesi dengan menghadap rumah gedong
dan membelakangi rumah gedong 
Burung betet terbang di atas pohon cemara
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Wariagung adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Wariagung adalah Batara Maharesi
·         Kelebihannya: umumnya hemat, pandai mencari nafkah.
·         Kekurangannya: sombong, bicaranya banyak dan besar.
·         Kayunya adalah pohon cemara, perwatakannya angkuh dan banyak bicara Yang bernaung di wuku Wariagung ini pada masa hidupnya mendapat beban yang berat.
·         Burungnya adalah burung Betet, rajin mencari rejeki.
·         Lambang wuku Wariagung adalah ketug lindu, artinya menjaga benar-benar akan sandang dan pangannya. Oleh karena kerja kerasnya, di hari tua akan menuai kebahagiaan dalam arti luas, digambarkan dengan rumah gedong di depan dan belakang.
·         Datangnya bahaya adalah dicelakai atau difitnah oleh keluarganya sendiri.
Hari naas : Minggu Legi, 
Hari baik : tidak jelas.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat nasi wuduk (nasi gurih) dang-dangan lauknya bebek putih dimasak gurih, dan nasi kuluban (gudangan) lima macam sayurannya, beras sapitrah (3,5 kg) disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh berpergian ke arah utara karena letak Kala berada di utara menghadap ke selatan.

Pawukon ke-9

Wuku Julungwangi

Julungwangi adalah nama putera nomor tujuh dari Prabu Watugunung dan Dewi Sinta yang lahir pada masa kandungan keempat.Raden Julungwangi mempunyai saudara kembar yaitu Raden Sungsang.

ulungwangi (kiri) menghadap Batara Sambu yang memegang umbul-umbul dan
menyanding Jembangan. Burung Kutilang terbang di atas pohon Cempaka
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Julungwangi adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Julungwangi adalah Batara Sambu
·         Banyak orang suka atas pembawaannya, sehingga orang yang berada di bawah naungan wuku Julungwangi umumnya gampang memperoleh rezeki.
·         Kayunya adalah pohon Cempaka, perwatakannya mempunyai kelebihan dalam hal daya tarik.
·         Burungnya adalah burung Kutilang, wataknya micara, banyak bicara
·         Menghadap jembangan, wataknya rela atas pemberian dengan harapan supaya tercapai kehendaknya.
·         Membawa umbul-umbul, wataknya dekat dengan kemuliaan dan disegani oleh orang besar.
·         Datangnya bahaya akibat digigit binatang buas.
Hari naas : tidak menentu 
Hari baik : tidak jelas.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat nasi kebuli, lauknya daging ayam merah disertai doa tolak bilahi (celaka).
Letak Kala berada di selatan, menghadap timur laut. Oleh karenanya disarankan selama 7 hari setelah selamatan, yang bersangkutan tidak boleh bepergian ke arah timur laut, letak Kala berada.

Pawukon ke-10

Wuku Sungsang

Wuku Sungsang mengambil nama dari anak nomor delapan Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. Namun jika yang dihitung masa kandungan Dewi Sinta, Sungsang lahir dari masa kandungan yang keempat. Ia adalah adik kembar dari Raden Julungwangi.

Raden Sungsang (kiri) menghadap Batara Gana,
Dewa berkepala Gajah, dengan menyanding gedong terguling.
Burung adalah burung Nori yang terbang diatas pohon Tangan.
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Sungsang adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Sungsang adalah Batara Gana.
·         Kelebihannya: pekerja keras, tidak mau menganggur. Lancar rejekinya. Mau berkorban tanpa pamrih sehingga cenderung boros.
·         Kekurangannya: hatinya serakah, iri akan harta orang lain, dan cenderung jahat.
·         Kayunya adalah pohon Tangan, gambaran dari orang yang senang bekerja
·         Burungnya adalah burung Nori, gambaran dari watak boros
·         Wuku ini digambarkan sedang menghadap gedong yang terguling, artinya menghamburkan harta bendanya
·         Datangnya bahaya akibat terkena alat dari besi,baik yang tajam dan tumpul
·         Hari naas : tidak jelas.
·         Hari baik : tidak jelas
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Sebanyak sapitrah (3,5 kg) Lauknya daging ayam dan daging bebek, boleh dimasak apa saja (bebas) dan sayuran 9 macam digudang, disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh bepergian ke arah Timur, karena letak Kala berada di Timur menghadap ke Barat.



Pawukon ke-11

Wuku Galungan

Wuku Galungan mengambil nama dari anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. nomor sembilan.


Raden Galungan (kiri) menghadap Batara Kamajaya yang memangku bokor isi air.
Pohonnya adalah pohon tangan, dan burungnya adalah burung Bido.
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Galungan adalah sebagai berikut :
  • Dewa yang menaungi wuku Galungan adalah Batara Kamajaya.
  • Kelebihannya: Tampan wajahnya, anteng tidak lelemeran atau tidak gampang jatuh ke dalam godaan. Senang berdarma. Sikap dan perbuatannya selalu menyenangkan hati orang lain, sehingga dicintai banyak orang. Tangkas dalam berbicara. Besar rasa tanggungjawabnya.
  • Kekurangannya: pemarah dan pemboros, sehingga penghasilannya selalu kurang.
  • Kayunya adalah kayu tangan. Wataknya agglidhik atau tidak mau menganggur.
  • Burungnya adalah burung Bido yang mempunyai watak besar amarahnya dan selalu tergoda untuk menginginkan haknya orang lain.
  • Dewanya Wuku Galungan digambarkan sedang memangku bokor berisi air, artinya dapat menghibur hati susah dan senang menyumbangkan tenaganya.
  • Datangnya bahaya akibat pertengkaran.
  • Hari naas : Minggu Pahing, Senin Pon dan Selasa Wage.
  • Hari baik : tidak jelas.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras sapitrah (3,5 kg) atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Lauknya pindang kambing disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Barat Laut, karena letak Kala berada di Barat Laut menghadap Tenggara.


Pawukon ke-12
Wuku Kuningan

Wuku Kuningan mengambil nama dari anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. nomor sepuluh.

Raden Kuningan (kiri) menghadap Batara Endra. 
Pohonnya adalah pohon Wijayakusuma, burungnya adalah burung Urang-urangan
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Kuningan adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Kuningan adalah Batara Endra
·         Kelebihannya: luhur budinya, berwibawa, manis tutur katanya, hemat, tertib dan teliti dalam pekerjaan
·         Kekurangannya: cenderung pelit, sifatnya tertutup, suka menyendiri, menjauhi keramaian
·         Kayunya adalah kayu Wijayakusuma. Wataknya rahayu atau selamat, jeli dalam mengamati segala sesuatu
·         Burungnya adalah burung Urang-urangan yang mempunyai watak trampil dalam hal pekerjannya, namun pemalu dan mudah tersinggung
·         Gedong tertutup yang berada di belakang menggambarkan bahwa Wuku Kuningan lekat dengan harta miliknya
·         Bencananya : dikucilkan oleh lingkungan masyarakat
·         Hari naas : Jumat Wage.
·         Hari baik : tidak jelas.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat sega punar atau nasi kuning sapitrah (3,5 kg) dengan cara diliwet/dimasak dengan cara di-dang (memakai kukusan), Lauknya rancapan daging kerbau dimasak basah, disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Barat, karena letak Kala berada di Barat menghadap Timur.

Pawukon ke-13

Wuku Langkir

Wuku Langkir mengambil nama dari anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. nomor sebelas.

Raden Langkir (kiri) menghadap Batara Kala
Pohonnya adalah pohon Cemara dan Kayu Ingas
burungnya adalah burung Gemak atau burung Puyuh
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Langkir adalah sebagai berikut :
  • Dewa yang menaungi wuku Langkir adalah Batara Kala
  • Kelebihannya: pemberani, ditakuti orang
  • Kekurangannya: tidak memikirkan diri sendiri, cenderung nekat. Mempunyai watak iri dengki sehingga tidak dapat dijadikan pelindung
  • Pohonnya adalah Pohon Cemara menumpang di pohon Ingas, mempunyai watak hatinya panas, tidak baik didekati karena dapat terkena imbasnya. Orang yang berada alam naungan Wuku Langkir tidak dapat diharapkan pertolongannya.
  • Burungnya adalah burung Puyuh. wataknya tidak takut kepada siapa pun termasuk musuhnya.
  • Bencananya : berkelahi dan kecurian.
  • Hari naas : Sabtu Pahing.
  • Hari baik : tidak menentu.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat Nasi Gurih sapitrah (3,5 kg) dengan cara diliwet/dimasak dengan cara di-dang (memakai kukusan), lauknya daging kambing dimasak lembaran, serta ikan air tawar dan gudangan mentah disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Tenggara, karena letak Kala berada di Barat Laut.


Pawukon ke-14

Wuku Mandasiya

Wuku Mandasiya mengambil nama dari anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. Raden Mandasiya adalah saudara kembar dari Raden Langkir, dan terhitung anak nomor dua belas

Penggambaran Wuku Mandasiya:
Raden Mandasiya (kiri) menghadap Batara Brahma
Pohon Asem menggambarkan dapat untuk berteduh dan berlindung 
Burung Pelatuk Bawang menggambakan watak yang mempunyai pendirian yang kuat dan tidak sabaran.
Gedhong ada di depan menggambarkan bahwa hemat atas rejeki yang diperoleh
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Mandasiya adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Mandasiya adalah Batara Brahma
·         Kelebihannya: mempunyai pendirian yang teguh dan kuat, dapat menjadi pelindung bagi orang-orang yang sedang susah. Cepat dalam bekerja, dan hemat dalam menggunakan hasil dari pekerjaannya. Penderma, terutama kalau dipuji. Keberuntungannya, murah rejekinya.
·         Kekurangannya: cepat marah dan pendendam.
·         Bencananya: terkena benda tajam atau terkena api
·         Hari naas: tidak jelas.
·         Hari baik: Sabtu Wage
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat sega abang (nasi merah) sapitrah (3,5 kg) diliwet/dimasak dengan cara di-dang (memakai kukusan), lauknya daging ayam merah dan bayam merah, kembang setaman dan uang receh disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh memanjat, karena letak Kala ada di atas.

Pawukon ke-15
Wuku Julungpujud

Nama Wuku Julungpujud adalah nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. nomor tiga belas

Penggambaran Wuku Julungpujud:
Raden Julungpujud (kiri) menghadap Batara Guritna
Pohonnya adalah pohon Rembuyut 
Burungnya adalah burung Pipit menggambakan baik bicaranya 
Gunung menggambarkan tinggi cita-citanya, tidak mau kungkulan atau disaingi. 
(karya herjaka HS)
Ciri-ciri wuku Julungpujud adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Julungpujud adalah Batara Guritna
Kebanyakan Wuku Julungpujud mempunyai tekad yang tinggi dalam meraih cita-cita, sehingga ia tidak suka ada orang lain yang melebihi dirinya.
·         Kelebihan Wuku Julungpujud : Rupawan suka bersolek, disenangi orang, biasanya memperoleh posisi yang baik.
·         Kekurangannya : Tidak suka disaingi, karena banyak disukai orang, jika tidak hati-hati dapat menjadi perselingkuhan. Hatinya sering bersedih karena meratapi nasibnya.
·         Bencananya: terkena tenung, guna-guna atau sihir. Nggrantes (terpukul) karena suatu berita yang sangat buruk.
·         Hari naas: tidak jelas.
·         Hari baik: Senin Legi.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng dari nasi yang diliwet/dimasak dengan cara di-dang (memakai kukusan) sebanyak sapitrah (3,5 kg) lauknya daging ayam panggang dan sayuran sembilan macam, disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Timur, karena letak Kala ada di Timur.

Pawukon ke-16
Wuku Pahang

Nama Wuku Pahang adalah nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. nomor empat belas. Raden Pahang ini adalah saudara kembar Raden Julungpujud

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Pahang:
Raden Pahang (kiri) menghadap Batara Tantra
Pohonnya adalah pohon Gendayakan sebagai perlindungan orang sakit dan teraniaya
Burungnya adalah burung Cocak artinya banyak bicara
Jembangan di sebelah kiri menggambarkan, jika tidak hati-hati wuku ini mempunyai kecenderungan untuk selingkuh.
Memegang senjata artinya menonjolkan kekuatannya dan memperlihatkan keberaniannya.
Ciri-ciri wuku Pahang adalah sebagai berikut :
  • Dewa yang menaungi wuku Julungpujud adalah Batara Tantra.
  • Sifat dan perwatakannya: suka berbicara berlebih, cenderung menentang bila merasa benar. Mudah curiga hingga amat berhati-hati dalam bekerja. Kadang-kala mempunyai sifat rasa dengki.
  • Kelebihan Wuku Pahang dapat menjadi pelindung bagi orang yang sedang sakit, serta rela berkorban untuk orang lain.
  • Bencananya: dianiaya
  • Hari naas: tidak jelas.
  • Hari baik: tidak jelas
Untuk mencegah agar terhindar dari penganiayaan perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng dari nasi yang diliwet/dimasak dengan cara di-dang (memakai kukusan) sebanyak sapitrah (3,5 kg), lauknya daging ayam putih lembaran dan sayuran sebelas macam, disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Selatan, karena letak Kala ada di Selatan


Pawukon ke-17
Wuku Kuruwelut

Nama Wuku Kuruwelut adalah nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. nomor lima belas. Raden Kuruwelut ini mempunyai saudara kembar Raden Marakeh.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Kuruwelut:
Raden Kuruwelut (kiri) menghadap Batara Wisnu
Pohonnya adalah pohon Parijatha, bagus wujudnya, mencintai saudara dan teman handai taulan.
Burungnya adalah burung Sepahan atau Puter, kuat dan dalam budinya, besar anugerahNya 
Gedongnya di depan, sifatnya pradah atau tidak sungkan mengeluarkan harta bendanya
Memegang senjata Cakra artinya berwatak perwira.
Ciri-ciri keberuntungannya adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Kuruwelut adalah Batara Wisnu yang menggambarkan terang pandangannya serta berwawasan luas dan bijaksana.
·         Sifat dan perwatakannya: jujur, luhur budinya, suka menolong.
·         Kelebihannya : cerdas, banyak akal.
·         Kekurangannya : senang pamer.
·         Bencananya: datang ketika berada di medan perang dan terkena racun tumbuh-tubuhan.
·         Hari naas: Sabtu Kliwon dan Minggu Wage.
·         Hari baik: Senin Kliwon
Untuk mencegah agar terhindar dari bencana perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah memotong kambing yang kaki depannya putih dan dimasak aneka macam, disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh memanjat karena letak Kala berada di atas.


Pawukon ke-18
Wuku Marakeh

Wuku Marakeh mengambil nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. nomor enam belas.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Marakeh:
Raden Marakeh (kiri) menghadap Batara Surenggana
Pohonnya adalah pohon Trengguli, kurang bermanfaat
Umbul-umbul terbalik menggambarkan cepat mendapat kehidupan yang menyenangkan
Gedhongnya ada di atas, senang menampakkan anugerah Allah
Ciri-ciri keberuntungannya adalah sebagai berikut :
·         Dewa yang menaungi wuku Marakeh adalah Batara Surenggana, tajam ingatannya, berani menghadapi kesulitan
·         Sifat dan perwatakannya : ramah-tamah dalam pergaulan
·         Kelebihannya : bahagia karena selalu bersyukur atas anugerah yang didapat dalam hidupnya
·         Bencananya : datang ketika berada dalam perjalanan jauh karena tenggelam atau dianiaya orang;
·         Hari naas: tidak jelas
·         Hari baik: tidak jelas
Untuk mencegah agar terhindar dari bencana perlu mengupayakan slametan. Caranya : membuat nasi wuduk dari nasi yang diliwet/dimasak dengan cara di-dang (memakai kukusan) sebanyak sapitrah (3,5 kg), lauknya daging ayam putih mulus dimasak lembaran dan jadah tukon disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke Utara tempat bersemayamnya Batara Kala.

Pawukon ke-19
Wuku Tambir

Wuku Tambir mengambil nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta. nomor tujuh belas. Raden Tambir ini mempunyai saudara kembar bernama Raden Medhangkungan.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Tambir:
Raden Tambir (kiri) menghadap Batara Siwah
Pohonnya adalah pohon Upas, tidak dapat untuk perlindungan
Burungnya adalah burung Prenjak, suka pamer tanpa kenyataan
Gedhongnya ada tiga dan tertutup, cethil/kikir, tamak, tidak mau berbagi akan anugerah Tuhan.
·         Dewa yang menaungi wuku Tambir adalah Batara Siwah.
·         Kelebihannya : Mempunyai wibawa besar, kuat dalam pendirian/kemauan, dan hemat
·         Kekurangannya : karena saking hematnya sehingga cenderung kikir. Mempunyai sifat palsu, antara lahir dan batin tidak sesuai, serta angkuh
·         Bencananya : karena difitnah orang.
·         Hari naas: Senin wage
·         Hari baik: tidak menentu
Untuk mencegah agar terhindar dari bencana perlu mengupayakan slametan. Caranya : membuat nasi pulen yang diliwet/dimasak dengan cara di-dang (memakai kukusan) sebanyak sapitrah (3,5 kg), lauknya daging ayam putih mulus, dan bebek merah dimasak pindang. Rujak timun lanang 25 biji, disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke Barat, tempat bersemayamnya Batara Kala.

Pawukon ke-20
Wuku Medhangkungan

Wuku Medhangkungan mengambil nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor delapan belas. Raden Medhangkungan ini adalah saudara kembar Raden Tambir.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Medhangkungan:
Raden Medhangkungan (kiri) menghadap Batara Basuki, dewa yang hatinya setia dalam menerima takdir.
Pohonnya adalah pohon Plasa, yang hanya dipakai di desa dan pegunungan.
Burungnya adalah burung Pelung, yang senang bermain di air.
Gedhongnya ada di atas, selalu memikirkan harta-bendanya.
·         Dewa yang menaungi wuku Medhangkungan adalah Batara Basuki.
·         Kelebihannya : pandai bicara, senantiasa bersyukur atas anugerah yang diterima, mantap dalam pendirian, tidak mudah goyah, dan besar rasa kebersamaannya. Hemat dan pandai mengatur ekonomi.
·         Kelemahannya : juweh atau suka mengomentari orang lain.
·         Kesenangannya menyepi.
·         Bencananya : karena dicelakai di waktu malam.
·         Hari naas : tidak jelas.
·         Hari baik : tidak menentu.
Untuk mencegah agar terhindar dari bencana perlu mengadakan slametan pada hari dan pasaran kelahirannya dengan membuat nasi kuning, lauknya daging ayam kuning, dan bubur merah disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke Timur, tempat bersemayamnya Batara Kala.


Pawukon ke-21
Wuku Maktal

Wuku Maktal mengambil nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor sembilan belas. Raden Maktal ini mempunyai saudara kembar bernama Raden Wuye.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Maktal adalah sebagai berikut:
Raden Maktal (kiri) menghadap Batara Sakri yang menjadi Dewa pengayomannya.
Dewa Sakri adalah Dewa yang setya akan kesanggupannya. Kencang kehendaknya.
Pohonnya adalah Pohon Nogosari, menggambarkan kebaikan rupa dan hatinya, harum suaranya dan enak didengar, serta dihargai pengabdiannya.
Burungnya adalah burung Ayam Alas, budinya cerdas dan tangkas, menjadi perhatian atasannya.
Ada gambar Gedhong yang berjajar dengan umbul-umbul, artinya keberhasilannya datang bersama antara kedudukan dan harta bendanya.
  • KelebihanWuku Maktal : sentausa budinya, setia pendiriannya.
  • Kelemahannya : mudah kecewa jika pekerjaannya dianggap kurang benar oleh orang-orang yang lebih tinggi derajatnya , sedikit sombong.
  • Bencananya : terlibat dalam perkelahian.
  • Hari naas : tidak jelas.
  • Hari baik : Rabu Kliwon
Untuk mencegah agar terhindar dari bencana perlu mengadakan slametan dengan menyediakan beras sepitrah (3,5 Kg). Beras tersebut dimasak dengan cara didang dengan perbandingan air agak banyak, agar nasinya lembek. Kemudian diberi lauk ikan ayam dimasak lembaran dan pindang bebek, disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Tenggara, karena tempat bersemayam bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala ada di Tenggara
.
Pawukon ke-22
Wuku Wuye
Wuku Wuye mengambil nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor duapuluh. Raden Wuye. ini saudara kembar dari Raden Maktal

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Wuye adalah sebagai berikut:
Raden Wuye (kiri) menghadap Batara Kuwera yang sedang membawa keris terhunus.
Pohonnya adalah Pohon Tal.
Burungnya adalah burung Gogik.
Ada gambar Gedhong ‘mlumah’ tergelimpang.
Perwatakan dan sikap Wuku Wuye adalah sesuai dengan penggambaran watak dari Batara Kuwera yaitu: pandai bicara, membuat senang orang lain, lebih senang menjauhi keramaian. Suka berolah keprajuritan. Memegang keris ligan atau terhunus menggambarkan bahwa wuku Wuye ini cerdas perasaannya dan selalu waspada. Burung Gogik menggambarkan besar kecemburuannya dan kecurigaannya. Pohon Tal menggambarkan besar keberuntungannya dan panjang umurnya. Gedong tergelimpang menggambarkan rela dan ikhlas akan harta benda miliknya.
  • Kelemahannya : cugetan aten atau gampang mutung, mudah patah semangat, tetapi juga cepat pulih kembali.
  • Kelebihannya : lebih senang memperhatikan hal-hal baik.
  • Bencananya : terkena sanja-baya, difitnah orang.
  • Hari naas :. Senin Kliwon.
  • Hari baik : tidak jelas.
Untuk mencegah agar terhindar dari bencana perlu mengadakan slametan dengan menyediakan aneka jajan pasar dan jadah dengan harga 25 dhuwit (uang yang jumlahnya 25 buah, boleh logam ataupun kertas) disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Barat, karena tempat bersemayam bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala ada di Barat.



Pawukon ke-23
Wuku Manahil
Wuku Manahil mengambil nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor duapuluh satu. Raden Manahil ini mempunyai saudara kembar yang bernama Raden Prangbakat. Orang yang bernaung pada wuku Manahil ini secara umum akan mempunyai watak yang digambarkan sebagai berikut.

karya herjaka HS
Raden Manahil menghadapBatara Citragatra.
Batara Citragatra ini mempunyai watak yang angkuh, sombong, gumedhe selalu menganggap dan merasa dirinya besar. Senang berkumpul tetapi besar rasa cemburu dan kecurigaannya. Batara Citragatra membawa tombak ligan terhunus. Ini menggambarkan cerdas dan tajam hatinya serta selalu waspada.
Hubungan antara Raden Manahil dan Batara Citragatra ini seperti hubungan antara guru dan murid. Sehingga watak dan perilaku gurunya sebagian besar mempengaruhi muridnya.
Pohonnya adalah pohon atau kayu Tengaron, menggambar watak yang rajin tetapi kurang bermanfaat.
Burungnya adalah Burung Sepahan, menggambarkan perilaku yang gesit, detail, rumit, mudah mencari nafkah tetapi sedikit rejekinya.
Gambar air di tempayan menggambarkan bahwa wuku Manahil senang suasana yang damai, tenang dan menentramkan. Untuk mewujudkan suasana yang menyejukkan tersebut orang yang bernaung dalam Wuku Manahil ini selalu menjaga bicaranya dan tingkah lakunya.
Wuku Manahil mudah terjerumus karena kebaikannya, terutama kepada temannya yang sedang mengalami kesusahan
Dari keseluruhan watak yang ada Wuku Manahil mempunyai :
Kelebihan : tekun, rajin, cerdas dan suka berdamai
Kekurangannya : Sombong, merasa besar sehingga meremehkan orang lain. Dan penuh kecurigaan
Hari baik : Minggu Legi
Hari naas: tidak jelas
Datangnya bencana terkena senjata tajam.
Hal bencana dapat dihindarkan dengan membuat slametan. Tujuannya supaya selamat, yaitu dengan menanak nasi ‘lemes’ (lemas atau lunak) sebanyak sepitrah (3,5 kg) dengan cara di ‘dang’, lauknya daging ayam jantan serta sayuran aneka macam dan sambal gepeng disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Timur Laut, karena tempat bersemayam bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala ada di Timur Laut.


Pawukon ke-24
Wuku Prangbakat
Wuku Prangbakat mengambil nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor dua puluh dua. Raden Prangbakat ini saudara kembar dari Raden Manahil.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Prangbakat adalah sebagai berikut:
Raden Prangbakat (kiri) menghadap Batara Bisma.
Kaki Batara Bisma yang sedang dicelupkan di bokor air melambangkan panjang umur dan rejekinya tak berkesudahan.
Pohonnya adalah Pohon Tirisan.
Burungnya adalah burung Urang-urangan.
Perwatakan dan sikap Wuku Prangbakat adalah sesuai dengan penggambaran watak dari Batara Bisma yaitu:
·         Kelemahannya : cenderung kaku, pemalu, pendiriannya mudah berubah. Tidak mudah merelakan harta yang sudah menjadi miliknya.
·         Kelebihannya : keras dalam kemauan, cekatan dalam melakukan segala pekerjaan, berbakat sebagai prajurit karena mempunyai keberanian dan kewaspadaan. Mudah mencari nafkah.
·         Bencananya : jatuh dari pohon atau bangunan bertingkat
·         Hari naas :. tidak jelas.
·         Hari baik : tidak jelas.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya sate sapi dengan bumbu rempah-rempah serba manis dan aneka sayuran disertai doa keselamatan.
Selain itu, setelah slametan, selama 7 hari yang bersangkutan tidak boleh memanjat atau melakukan perjalanan di jalan yang menurun, karena tempat bersemayamnya bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala ada di bawah.


Pawukon ke-25
Wuku Bala

Nama wuku Bala diambil dari nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor dua puluh tiga. Raden Bala ini mempunyai saudara kembar yang bernama Raden Wugu.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Bala adalah sebagai berikut:
Raden Bala (kiri) menghadap Batari Durga.
Gedongnya ada di depan menggambarkan senang memamerkan harta bendanya.
Pohonnya adalah Pohon Cemara, tidak dapat untuk perlindungan.
Burungnya adalah burung Ayam-alas, wanter (berani) budinya.
Perwatakan dan sikap Wuku Bala adalah sesuai dengan penggambaran watak dari Batari Durga yaitu:
  • Kelebihannya : Senang berbicara, pemberani, tak ada yang ditakuti. Sering mendapat pujian dari atasan. Senang berada di tempat yang sepi.
  • Kelemahannya : Cenderung sombong, senang pamer, senang menghasut. Penampilannya serem, sehingga orang menjadi takut dan segan.
  • Bencananya : kena guna-guna atau racun.
  • Hari naas :. Senin Legi dan Rabu Pon.
  • Hari baik : Kamis Wage.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng, dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya ayam panggang ireng mulus, dan aneka sayuran 7 macam, disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari setelah slametan, yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah barat, karena tempat bersemayamnya bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala berada di Barat.


Pawukon ke-26

Wuku Wugu

Nama wuku Wugu diambil dari nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor dua puluh empat. Raden Wugu ini adalah adik dari saudara kembarnya yang bernama Raden Bala.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Wugu adalah sebagai berikut:
Raden Wugu (kiri) menghadap Batara Singajalma
Gedongnya ada di belakang dan tertutup menggambarkan watak yang kikir
Pohonnya adalah Pohon Wuni, yang sedang berbuah. Semua orang yang melihat akan kepingin untuk memetik buah ilmunya.
Burungnya adalah burung Kepodang, besar kecemburuannya
Perwatakan dan sikap Wuku Wugu adalah sesuai dengan penggambaran watak dari Batara Singajalma yaitu:
  • Kelebihannya : Cerdik, luas wawasannya, kaya ilmu, senang suasana yang romantis, rendah hati, mau mengalah, hemat dan banyak rejeki.
  • Kelemahannya : Cenderung egois, tidak mau bergaul dengan banyak orang
  • Bencananya : digigit binatang berbisa dan kena racun.
  • Hari naas : Minggu Pahing
  • Hari baik : Jumat Pahing
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat nasi pulen (lemes dan lunak) dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya sepasang itik putih dimasak lembaran ditambah dang jadah dan aneka jajan pasar, disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari setelah slametan, yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Selatan, karena tempat bersemayamnya bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala berada di Selatan.



Pawukon ke-27
Wuku Wayang

Nama wuku Wayang diambil dari nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor dua puluh lima. Raden Wayang ini mempunyai saudara kembar yaitu Raden Kulawu.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Wayang adalah sebagai berikut:
Raden Wayang (kiri) menghadap Batari Sri
Gambar Gedong menggambarkan kerelaannya memberikan harta bendanya.
Gambar jembangan air menggambarkan hati yang tentram damai.
Pohonnya adalah Pohon Cepaka, disenangi orang banyak.
Burungnya adalah burung Ayam Hutan harum bicaranya. 
Batari Sri memegang keris terhunus, tajam budinya dan waspada sikapnya.
Perwatakan dan sikap Wuku Wayang adalah sebagai berikut :
·         Kelebihannya : Rupawan, murah hati, penuh belas kasihan, menjadi pelindung. Kuat mendapat jabatan tinggi dan mempunyai wibawa besar. Tajam pikirannya dan cermat dalam bekerja. Mampu memberi cahaya bagi orang yang sedang berada dalam kegelapan.
·         Kelemahannya : bicaranya serba lungit (dalam dan penuh perlambang) sehingga sukar untuk dipahami dan dimengerti.
·         Bencananya : tertipu karena kebaikannya.
·         Hari naas : Selasa Legi.
·         Hari baik : hampir semua.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (dengan kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya daging kambing kendhit dimasak macam-macam dan jadah tetelan disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari setelah slametan, yang bersangkutan tidak boleh memanjat, karena tempat bersemayamnya bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala berada di atas



Pawukon ke-28
Wuku Kulawu

Nama wuku Kulawu diambil dari nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor dua puluh enam. Raden Kulawu mempunyai kakak kembar yaitu Raden Wayang.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Kulawu adalah sebagai berikut:
Raden Kulawu (kiri) menghadap Batara Sadana
Gambar Gedong di depan menggambarkan besar rejekinya, tidak segan mengeluarkan raja brana.
Senjata yang berada di belakang, mempunyai watak jujur dan terus terang
Pohonnya adalah Pohon Tal, panjang umurnya
Burungnya adalah burung Nuri, kurang cermat dalam hal pengeluaran.
Perwatakan dan sikap Wuku Kulawu adalah sebagai berikut :
  • Kelebihannya : kuat budinya, tabah menghadapi kesulitan. Halus perasaannya, pengasih, suka mendermakan miliknya, kesehatannya baik.
  • Kelemahannya : kurang cerdas dan mempunyai watak boros.
  • Bencananya : digigit binatang berbisa atau kena racun.
  • Hari naas : tidak jelas.
  • Hari baik : Sabtu Paing.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat sega-golong dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (memakai kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya daging ayam dan bebek merah dimasak macam-macam dan disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari setelah slametan, yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah utara, karena tempat bersemayamnya bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala berada di utara.

Pawukon ke-29

Wuku Dukut

Nama wuku Dukut diambil dari nama anak Prabu Watugunung dan Dewi Sinta nomor dua puluh tujuh. Raden Dukut adalah satu-satunya anak yang lahir tanpa saudara kembar.

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Dukut adalah sebagai berikut:
Raden Dukut (kiri) menghadap Batara Baruna
Gambar Gedong di belakang menggambarkan hemat dan kaya-raya
Pohonnya adalah Pandan Wangi, senang di kesunyian
Burungnya adalah burung Ayam Alas dimanjakan oleh orang besar
Perwatakan dan sikap Wuku Dukut adalah sebagai berikut :
  • Kelebihannya : kuat budinya, mantap dalam pendirian, berwatak prajurit yang selalu siaga dan waspada. Pandai dan setia.
  • Kelemahannya : Loba dan sombong.
  • Bencananya : Celaka dalam peperangan.
  • Hari naas : tidak jelas.
  • Hari baik : Kamis Paing.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (memakai kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya daging ayam mulus dimasak santan dan disertai doa keselamatan. Selain itu, selama 7 hari setelah slametan, yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Barat Laut, karena tempat bersemayamnya bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala berada Barat Laut.


Pawukon ke-30
Wuku Watugunung

Wuku Watugunung ini berasal dari nama dari raja Gilingwesi yang mempunyai dua isteri dan duapuluh tujuh anak. Diawali dengan isteri yang bernama Dewi Sinta, dan disusul Dewi Landhep serta anak2nya sudah dibeberkan dalam nama-nama wuku yang jumlahnya 29. Sedangkan Prabu Watugunung sendiri ditempatkan dalam nama wuku yang ke 30, atau penutup. Karena setelah wuku Watugunung siklus waktu akan kembali ke wuku pertama atau wuku Sinta, dan seterusnya. Perlu diketahui bahwa hitungan satu wuku adalah 7 hari. Maka satu siklus waktu menurut hitungan wuku adalah 7 (hari) X 30 (jumlah wuku) = 210 hari..

karya herjaka HS
Penggambaran Wuku Watugunung adalah sebagai berikut:
Raden Watugunung (kiri) menghadap Batara Antaboga dan Nagagini.
Gambar Candhi di depan yakni senang semadi, meditasi dengan laku seperti pandhita
Pohonnya adalah pohon Wijayakusuma, bagus parasnya, tetapi tidak senang bergaul dengan orang banyak.
Burungnya adalah burung Gogik, pemalu.
Perwatakan dan sikap Wuku Watugunung adalah sebagai berikut :
  • Kelebihannya : teliti, hati-hati, mempunyai cita-citanya tinggi, romantis, senang mendoakan orang agar mendapat pengampunan.
  • Kelemahannya : pencemburu, sering gelisah, bimbang dan mudah tersinggung
  • Bencananya : karena penganiayaan.
  • Hari naas : tidak jelas.
  • Hari baik : tidak jelas.
Untuk mencegah agar terhindar dari celaka perlu mengupayakan slametan. Caranya adalah membuat tumpeng dang-dangan beras atau meliwet/memasak beras dengan cara di-dang (memakai kukusan). Banyaknya beras yang di-dang adalah sapitrah atau 3,5 kg. Lauknya ikan air tawar dan daging jenis burung, buah-buahan, jadah, macam-macam bubur, serta sayur 9 macam, disertai doa keselamatan.
Selain itu, selama 7 hari setelah slametan, yang bersangkutan tidak boleh pergi ke arah Timur, karena tempat bersemayamnya bencana yang digambarkan sebagai Batara Kala berada di Timur.
Sumber:

No comments:

Post a Comment